KEUTAMAAN ILMU

KEUTAMAAN ILMU

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmuku.” (Thaha: 114)

Allah Ta’ala juga berfirman:

“Katakanlah: “Apakah sama antara orang-orang yang mengetahui – yakni berilmu – dan orang-orang yang tidak mengetahui – yakni tidak berilmu.” (az-Zumar: 9)

Allah Ta’ala berfirman lagi:

“Allah mengangkat orang-orang yang beriman dari engkau semua dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dengan beberapa derajat.” (al-Mujadalah: 11)

Allah Ta’ala berfirman pula:

“Hanyasanya yang takut kepada Allah dari kalangan hamba- hambaNya itu ialah para alim-ulama.”

1373. Dari Mu’awiyah r.a.,katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah untuk memperoleh kebaikan, maka Allah membuat ia menjadi pandai dalam hal keagamaan.” (Muttafaq ‘alaih)

1374. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Tiada kehasudan yang dibolehkan melainkan dalam dua macam perkara, yaitu: seseorang yang dikaruniai oleh Allah akan harta, kemudian ia mempergunakan untuk menafkahkannya itu guna apa-apa yang hak – kebenaran – dan seseorang yang dikaruniai ilmu pengetahuan oleh Allah, kemudian ia memberikan keputusan dengan ilmunya itu – antara dua orang atau dua golongan yang berselisih – serta mengajarkan ilmunya itu pula.” (Muttafaq ‘alaih)

Artinya ialah bahwa seseorang itu tidak patut dihasudi atau diiri kecuali dalam salah satu dari kedua perkara di atas itu untuk ditiru dan diamalkan seperti orang tersebut. Yang dimaksudkan dengan Alhasad ialah ghibthah yaitu mengharapkan
seperti yang ada pada orang lain.

1375. Dari Abu Musa r.a., katanya: “Nabi s.a.w. bersabda: “Perumpamaan dari petunjuk dan ilmu yang dengannya saya diutus oleh Allah itu adalah seperti hujan yang mengenai bumi. Di antara bumi itu ada bagian yang baik, yaitu dapat menerima air, kemudian dapat pula menumbuhkan rumput dan lalang yang banyak sekali, menahan masuknya air dan selanjutnya dengan air yang bertahan itu Allah lalu memberikan kemanfaatan kepada para manusia, karena mereka dapat minum daripadanya, dapat menyiram dan bercucuk tanam. Ada pula hujan itu mengenai bagian bumi yang lain, yang ini hanyalah merupakan tanah rata lagi licin. Bagian bumi ini tentulah tidak dapat menahan air dan tidak pula dapat menumbuhkan rumput. Jadi yang sedemikian itu adalah contohnya orang pandai dalam agama Allah dan petunjuk serta ilmu yang dengannya itu saya diutus, dapat pula memberikan kemanfaatan kepada orang tadi, maka orang itupun mengetahuinya – mempelajarinya, kemudian mengajarkannya – yang ini diumpamakan bumi yang dapat menerima air atau dapat menahan air, dan itu puIalah contohnya orang yang tidak suka mengangkat kepala untuk menerima petunjuk dan ilmu tersebut. Jadi ia
enggan menerima petunjuk Allah yang dengannya itu saya dirasulkan – ini contohnya bumi yang rata serta licin.” (Muttafaq ‘alaih)

1376. Dari Sahl bin Sa’ad r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda kepada Ali r.a.:

“Demi Allah, niscayalah andaikata Allah memberikan petunjuk kepada seseorang lelaki dengan perantaraan usahamu, maka hal itu adalah lebih baik daripada unta-unta yang merah-merah,” sebagai kiasan hartabenda yang paling dicintai oleh bangsa Arab. (Muttafaq ‘alaih)

1377. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi s.a.w. bersaba:

“Sampaikanlah – kepada orang lain – ajaran yang berasal daripadaku, sekalipun hanya seayat belaka. Percakapkanlah tentang kaum Bani Israil – yakni kaum Yahudi – dan tidak ada halangan apapun. Dan barangsiapa yang berdusta atas diriku dengan sengaja maka baiklah ia menempati tempat duduknya dari neraka.” (Riwayat Bukhari)

1378. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Barangsiapa yang menempuh sesuatu jalan untuk mencari ilmu pengetahuan di situ, maka Allah akan mempermudahkan baginya suatu jalan untuk menuju ke syurga.” (Riwayat Muslim)

1379. Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk – yakni kebenaran, maka baginya adalah pahala seperti pahala-pahala orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun dari pahala mereka itu.” (Riwayat Muslim)

1380. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Apabila anak Adam – yakni manusia – meninggal dunia, maka putuslah amalannya – yakni tidak dapat menambah pahalanya lagi, melainkan dari tiga macam perkara, yaitu sedekah jariah atau ilmu yang dapat diambil kemanfaatannya atau anak yang shalih yang suka mendoakan untuknya.” (Riwayat Muslim)

1381. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Saya mendengar Rasulullah
s.a.w. bersabda:

“Dunia ini adalah terlaknat, terlaknat pula apa-apa yang ada di atasnya, melainkan berzikir kepada Allah dan apa-apa yang menyamainya, juga orang yang alim serta orang yang menuntut ilmu.” Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa itu adalah Hadis hasan.

Sabda Nabi s.a.w.: “Wa maa walah” artinya: Dan apa-apa yang menyamainya, ialah taat atau melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala.

1382. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa keluar untuk menuntut ilmu, maka ia dianggap sebagai orang yang berjihad fi-sabilillah sehingga ia kembafi.”

Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

1383. Dari Abu Said al-Khudri r.a. dari Rasulullah s.a.w., sabdanya:

“Tiada sekali-kali akan kenyanglah seseorang mu’min itu dari kebaikan, sehingga penghabisannya nanti adalah syurga.”

Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

1384. Dari Abu Umamah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Keutamaan orang alim atas orang yang beribadat ialah seperti keutamaanku atas orang yang terendah di antara engkau semua.”

“Selanjutnya Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya, juga para penghuni langit dan bumi, sampaipun semut yang ada di dalam liangnya, bahkan sampaipun ikan yu, niscayalah semua itu menyampaikan kerahmatan kepada orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada para manusia.”

Adapun yang selain Allah ialah memohonkan agar orang-orang yang mengajar kebaikan itu diberi kerahmatan oleh Allah.

Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

1385. Dari Abuddarda’ r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari sesuatu ilmu pengetahuan di situ, maka Allah akan memudahkan untuknya suatu jalan untuk menuju syurga, dan sesungguhnya para malaikat itu niscayalah meletakkan sayap-sayapnya kepada orang yang menuntut ilmu itu, karena ridha sekali dengan apa yang dilakukan oleh orang itu. Sesungguhnya orang alim itu niscayalah dimohonkan pengampunan untuknya oleh semua penghuni di langit dan penghuni-penghuni di bumi, sampaipun ikan-ikan yu yang ada di dalam air. Keutamaan orang alim atas orang yang beribadat itu adalah seperti keutamaan bulan atas bintang-bintang yang lain. Sesungguhnya para alim ulama adalah pewarisnya para Nabi, se-sungguhnya para Nabi itu tidak mewariskan dinar ataupun dirham, hanyasanya mereka itu mewariskan ilmu. Maka barangsiapa dapat mengambil ilmu itu, maka ia telah mengambil dengan bagian yang banyak sekali.” (Riwayat Abu Dawud dan Termidzi)

1386. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Allah memberikan kenikmatan kepada seseorang yang mendengarkan sesuatu ucapan dari kami – yakni dari Nabi s.a.w. – lalu ia menyampaikannya sebagaimana yang didengar olehnya. Maka banyak sekali orang yang diberi berita itu lebih dapat mengingat-ingat – yakni lebih memperhatikan – daripada orang yang men-dengarnya sendiri?”

Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

1387. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Barangsiapa yang ditanya mengenai sesuatu ilmu, lalu ia menyimpannya – yakni tidak suka menerangkan yang benar, maka ia akan diberi kendali – di mulutnya – besok pada hari kiamat dengan kendali dari neraka.”

Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud serta Termidzi dan Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

1388. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Barangsiapa yang mempelajari sesuatu ilmu pengetahuan dari golongan ilmu yang semestinya untuk digunakan mencari keridhaan Allah ‘Azzawajalla, tetapi ia mempelajarinya itu tiada lain maksunnya, kecuali hendak memperoleh sesuatu tujuan dari keduniaan, maka orang yang sedemikian tadi tidak akan dapat menemukan keharuman syurga pada hari kiamat.” Yakni bau harumnya syurga itu tidak akan dapat dirasakannya.

Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.

1389. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Sesungguhnya Allah itu tidak mencabut ilmu pengetahuan dengan sekaligus pencabutan yang dicabutnya dari para manusia, tetapi Allah mencabut ruhnya para alim-ulama, sehingga apabila tidak ditinggalkannya lagi seorang alimpun – di dunia ini, maka orang-orang banyak akan mengangkat para pemimpin – atau kepala-kepala pemerintahan – yang bodoh-bodoh. Mereka – para pemimpin dan kepala – itu ditanya, lalu memberikan keterangan fatwa dengan tanpa menggunakan dasar ilmu pengetahuan. Maka akhirnya mereka itu semuanya sesat dan pula menyesatkan – orang lain.” (Muttafaq ‘alaih)

~ oleh sdn2cangkoakdukupuntang pada April 2, 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: